Sabtu, 24 Januari 2015

Mengapa Aku Tak Pernah Tahu ?

            Namaku Putri, aku tinggal di kota Bandung bersama keluarga kecilku yang sederhana dan penuh kasih sayang. Hari ini adalah libur akhir semester ganjil, aku dan teman-temanku berencana untuk jalan-jalan mencari hiburan, rencananya kami akan pergi nonton dan makan di salah satu mall di kota Bandung. Hari ini perasaanku sangat senang karena untukku ini merupakan sebuah pencerahan setelah kemarin aku melaksanakan aktivitas yang begitu padat.
            Hari sudah hampir sore, ini waktunya aku harus pulang, aku berpamitan untuk pulang duluan kepada teman-temanku. Sesampainya dirumah, aku melihat papah sedang duduk sendirian di  ruang tengah karena waktu itu mamah sedang pergi ke rumah kakakku di kota Bogor. Setelah sholat Ashar, aku menemani papah menonton TV sambil mengobrol-ngobrol, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, ternyata yang datang adalah pamanku, dia kesini untuk memberitahukan berita duka bahwa sepupuku yang bernama Lia tadi sore meninggal dunia di kota Bekasi karena penyakit asma yang telah lama dideritanya. Aku dan papah sangat kaget mendengar berita itu karena baru saja kemarin kak  Lia meneleponku dengan keadaannya yang baik-baik saja. Seketika papah pun langsung lemas dan terdiam aku pun mengambil handphoneku di kamar untuk memberitahukan kabar duka tersebut kepada mamah.
Adzan magrib berkumandang dengan sangat merdu, setelah sholat aku dan papah berangkat menuju rumah nenekku di kota Cimahi untuk berkumpul dengan keluarga yang lain dan bersama-sama berangkat ke Bekasi.
            Setibanya dirumah nenek, aku melihat bibi-bibiku sedang menangis, tapi aku merasakan sesuatu yang aneh, saat aku tiba dirumah nenek, semua orang menangis memelukku sambil berkata "Putri, yang sabar ya sayang ikhlaskan kak Lia". Disitu aku pun tak kuasa menahan air mataku yang sejak tadi telah terbendung, apalagi ketika melihat nenekku berteriak histeris menyebut nama Lia. Aku memeluk nenekku dan nenekku juga melakukan hal yang sama seperti apa yang tadi bibi-bibiku lakukan terhadapku.
            Tak terasa waktu cepat berlalu, satu jam sudah kami menunggu sanak saudara berkumpul di rumah ini, setelah semuanya hadir kami segera berangkat ke Bekasi, kak Jasa kakakku, mengelus-ngelus punggungku sambil berkata "Put, kalau mau nangis, nangis saja jangan ditahan ya".
            Saat aku berada di jalan tol, aku merasa kak Lia ada disampingku, dia menangis sambil memelukku, sungguh aneh sekali ini tak seperti bayangan, tapi ini seperti kenyataan dan aku pun tak kuasa menahan air mataku lagi hingga akhirnya aku menangis dan kakakku memelukku. Tiba-tiba aku teringat Cenna dan Wastu, mereka adalah anak-anak kak Lia yang masih sangat kecil, apalagi Wastu, dia baru saja lahir  ke dunia ini 20 hari yang lalu. Kasihan sekali mereka masih sangat kecil tapi sudah ditinggal oleh ibunya, padahal mereka masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu.
            Aku tak tahu apa yang terjadi saat ini, yang aku tahu semua orang selalu menangis ketika mereka melihatku, mereka seperti sangat sedih ketika melihatku.
            Aku membuat janji bertemu dengan mamah dan kak Irwan di pintu tol dan aku pindah ke mobil kak Irwan, disana aku melihat keadaan mamah yang kurang sehat sambil menghisap botol minyak kayu putih kecil. mamahku juga menangis dan terus memelukku, aku tak punya pikiran apapun, yang aku tahu, keluarga kami sedang berduka atas kepergian kak Lia yang begitu mendadak.
            Kak Lia itu adalah sepupuku, dia dekat dengan keluargaku karena sewaktu dia masih kecil, dia sempat tinggal bersama mamah dan papahku. Dia juga dekat denganku, dia sering mengajakku jalan-jalan, membelikan aku baju, sepatu dan terkadang dia memberiku uang jajan.
            Tak lama kemudian, kami sampai di depan sebuah perumahan tempat kak Lia tinggal, bendera berwarna kuning telah berkibar mulai dari depan komplek sampai rumah Kak Lia, tepat pukul sebelas malam, akhirnya kami tiba di rumah Kak Lia, terlihat sudah banyak orang yang sedang mengaji Yasin, aku melihat suami kak Lia yang sedang menangis terpukul disana, aku melihat jenazah kak Lia dan aku pun menangis tidak percaya karena selama seminggu ini, kak Lia sering menelepon dan chatting denganku di sebuah media sosial.
            Dinginnya malam ini tak terasa menusuk kulit, yang terasa hanya kesedihan mendalam yang membuat tangis, aku berkumpul dengan saudara-saudara yang lain di tenda depan rumah kak Lia, saat aku sedang mengobrol dengan Ajeng sepupuku, mamah dan papah memanggilku untuk bicara di kamar tante Ita, sahabat kak Lia. Disana sudah ada banyak orang yang menunggu kehadiranku, dengan sigap mamah memelukku sambil menangis, aku tak paham apa maksud semua ini, ada apa ini sebenarnya, papah memulai pembicaraan dengan matanya yang berkaca menahan tangis.
"Put, ada sesuatu yang Putri harus tahu, tapi Putri harus sabar ya harus tegar mendengarnya." Ucap papah.
"ada apa pah, mah ?" tanyaku heran.
"Put, di dunia ini ada ibu yang melahirkan dan ada ibu yang membesarkan," ucap mamah berbata-bata.
"terus memang kenapa mah ?" tanyaku tambah tak mengerti.
"Put, kamu harus tahu, kalau...” ucapan papah berhenti.
            Ku lihat mamah meneteskan air matanya.
“kalau apa pah ?” tanyaku cemas.
“kalau sebenarnya Lia itu ibu kandung kamu, ibu yang melahirkan kamu !" jelas papah.
            perasaanku tak percaya, aku seperti disambar petir dalam hujan yang begitu deras.
"pah, jangan becanda pah gak lucu" aku semakin tak percaya.
"kita tidak becanda Putri, maafin mamah sama papah ya sayang"
            mamahku menangis, kakak-kakaku juga menangis dan langsung memelukku, mereka semua meminta maaf karena telah merahasiakan hal ini dariku. aku yang masih merasa sangat tidak percaya dengan hal ini, aku seperti sebuah benda yang jatuh dari ketinggian seribu kaki, rasanya sakit sekali menerima kenyataan ini.
"semuanya bohong kan, itu cuma becanda kan ?" bantahku tak bisa menerima.
            Semuanya hanya diam dan terus menangis sambil memelukku.
Aku menangis dan berteriak histeris, mamah terus menangis sambil memeluk aku. Rasa sakit, sedih bercampur marah dan kesal ada dibenakku, aku sangat terpukul oleh hal ini, anak mana yang bisa menerima kenyataan bila ternyata selama hampir 16 tahun dia hidup didalam keluarga yang bukan keluarga kandungnya dan dia tahu ibu kandungnya setelah ibu kandungnya itu sudah terbujur kaku dihadapannya.
            Sampai menjelang subuh pun aku masih belum bisa berhenti menangis, sedih yang aku rasakan begitu dalam menusuk hatiku, hatiku seakan terus bertanya mengapa mamah Lia melakukan semua ini kepadaku, tiba-tiba mamah mengajakku untuk melihat jenazah kak Lia, tapi aku belum siap dan masih sangat terpukul untuk menghadapi kenyataan pahit ini, aku masih takut untuk melihat jenazah ibu kandungku, aku masih tak percaya semua ini benar-benar terjadi kepadaku.
            Keesokan harinya, aku diajak oleh mamah untuk melihat jenazah mamah Lia sebelum beliau dimakamkan, aku menangis lagi ketika aku sampai depan pintu ruang tengah, aku tak kuat menahan air mataku, aku mendekati jenazah mamah Lia, ingin aku memeluknya dan berteriak mamah ini aku, mah bangun mah, tapi itu sudah tak mungkin lagi, nasi sudah menjadi bubur, itu semua hanya sebuah takdir dari Tuhan untuk perjalanan hidupku.
            Bu ustadzah menghampiri aku dan mamah, dan mengingatkan jangan sampai air mataku terjatuh di kulit mamah Lia karena itu dapat menjadi siksa kubur untuknya.
Aku menangis di samping jenazah sambil bekata "mamah, maafin aku mah, maafin aku selama ini aku tak pernah tahu siapa mamah, maafin semua kesalahan aku".
            Tante Sani, adik mamah Lia mengabarkan dia sedang di perjalanan dari kota Malang menuju Jakarta dan sebentar lagi sampai dan dia meminta pemakaman mamah Lia ditunda sampai ia tiba.
            Waktu menunjukan pukul 12.00 WIB, mentari pun sudah tepat berada di atas ubun-ubun kepala, tapi tante Sani belum juga tiba, suami mamah Lia pun menelepon tante Sani dan memberitahukan bahwa jenazah harus segera dimakamkan, dan akhirnya tante Sani meminta foto atau video jenazah mamah Lia sebelum dimakamkan.
            Sebelum pemakaman, semua keluarga berkumpul diruang tamu untuk mendoakan jenazah, dan bu ustadz bilang kalau sebelum mamah Lia meninggal dia ingin sekali mendengar aku memanggilnya dengan sebutan mamah, saat itu aku mendekatinya sambil menangis dan memanggilnya mamah, semua orang sangat terkejut ketika jenazah mamah Lia yang sudah tak bernyawa mengeluarkan air mata, menurut bu ustadzah walaupun sudah berbeda alam, ibu dan anak memiliki kontak batin yang tak akan pernah bisa terputus.
            Setelah berdoa, aku, Cenna dan Wastu mengolongi jenazah sesuai dengan adat keluarga kami dan kemudian kami ke masjid yang tidak jauh dari rumah untuk menyolatkan jenazah, air mataku tak bisa berhenti mengalir. Setelah itu kami pun segera pergi ke pemakaman umum untuk memakamkan mamah Lia yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah.
            Sesampainya kami di pemakaman tiba-tiba hujan turun, aku pun masih menangis dan semakin terpukul ketika meliahat jenazah mamah Lia, kemudian aku berdoa meminta agar hujannya segera berhenti. Dan Doaku pun dikabulkan oleh Allah, 15 menit kemudian hujan pun reda dan jenazah mamah Lia pun diturunkan dari ambulan. Saat jenazah mamah Lia diangkat dari keranda dan dimasukkan ke liang lahat tangisku semakin menjadi, seolah aku tak rela kehilangan mamah Lia. Aku terus menangis saat jenazah dikuburkan dan di doakan, aku pulang ke rumah mamah Lia, dalam hatiku aku berharap ini bukanlah sebuah kenyataan pahit, tapi ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir.
            Tuhan, semoga mamah Lia tenang di alam sana, aku sayang mamah.